Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Kakanmenag Aceh Singkil Study E-Kinerja PNS



Banda Aceh - Dalam rangka menindak lanjuti UU No.4 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, dimana Kementrian antar lembaga dan Pemerintah Daerah dituntut untuk melakukan terobosan dan Inovasi guna terwujudnya e-Goverment.

Dasar ini pula mengilhami Drs Salihin Mizal, MA Kepala Kementrian Agama Kabupaten Aceh singkil untuk mendalami program e-kinerja PNS yang telah berlangsung sejak Tahun 2012 dilingkungan Pemko Banda Aceh.

Kamis,  26 Nopember 2015, Salihin yang juga mantan Ketua BKPRMI Kabupaten Aceh selatan bertandang pada UPTB Penilaian Kinerja PNS/E-Kinerja PNS guna melakukan silaturrahmi serta konsultasi terkait penerapan e-kinerja PNS dilingkungan Kementrian Agama Kabupaten Aceh Singkil.

Kegiatan yang berlangsung kurang lebih satu jam diterima langsung oleh Muhammad Syarif SHI MH Kepala UPTB Penilaian Kinerja PNS/E-Kinerja  diruang kerjanya. Diskusi mengalir dengan cair, Tak disangka pada saat sama-sama aktif di DPW BKPRMI NAD dibawah kepemimpinan Drs Bustami Usman MSi kurang lebi sepuluh tahun yang lalu. Akhirnya dipertemukan.

Syarif memberikan apresiasi atas rencana Kemenag Aceh singkil untuk melakukan terobosan di bidang pembinaan Sumber Daya Aparatur, Kepegawaian dan Tata Laksana.
"Semua berawal dari mimpi. Semoga saja pertemuan ini menjadi awal untuk menata kelembagaan, kepegawaian dan tata laksana dilingkungan Kementrian Agama Aceh Singkil," cetus Salihin.

Jelang Ramadhan 1436 H, Harga Sembako Dipastikan Stabil



Banda Aceh – Harga sembilan bahan pokok (Sembako) di Kota Banda Aceh menjelang bulan puasa Ramadhan 1436 H, dipastikan stabil. Sementara harga sayur-mayur diprediksi akan mengalami sedikit kenaikan. 

Hal tersebut mengemuka dalam rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Banda Aceh, Rabu (10/6) kemarin yang dipimpin oleh Sekdako Banda Aceh Ir Bahagia Dipl SE di Ruang Rapat Sekda Gedung B Balai Kota.
“Informasi dari pihak Bulog, stok Beras selama bulan puasa cukup untuk warga Kota Banda Aceh, harganya pun dipastikan stabil. Sebelumnya kita juga sudah menyalurkan Raskin kepada warga yang membutuhkan,” kata Sekda Bahagia, Kamis (11/6/2015).
Untuk harga bahan Sembako lainnya juga dipastikan stabil. Kenaikan harga diperkirakan hanya terjadi untuk komiditi sayur-mayur. “Untuk mengendalikan kenaikan harga, Disperindag Banda Aceh juga telah menggelar operasi pasar di sejumlah titik.”
“BI memang memprediksi akan terjadi sedikit inflasi karena faktor permintaan barang meningkat. Ditambah masa panen 2015 juga telah selesai. Sementara Pertamina juga telah menambah jumlah persediaan tabung gas ukuran 3kg dan 12 kg untuk wilayah Banda Aceh,” kata Sekda.
Rapat yang digelar dalam rangka pemantauan dan pengendalian harga kebutuhan pokok menjelang Ramadhan 1436 H tersebut, diikuti oleh seluruh perwakilan SKPD yang tergabung dalam TPID Banda Aceh. Hadir pula sejumlah perwakilan instansi vertikal seperti Bank Indonesia, Bulog, Pertamina dan Badan Pusat Statistik (BPS). (Jun)

Optimalisasi Penerapan SI Perlu Kebijakan Khusus Dari Pusat




Banda Aceh – Tidak semua program pemerintah pusat sesuai dengan Provinsi Aceh yang menerapkan Syariat Islam. Masih banyak persoalan yang bersifat paradoks, termasuk dalam hal penyaluran zakat.

Hal tersebut dikemukakan Wali Kota Banda Aceh Hj Illiza Sa'aduddin Djamal SE spada acara pembukaan seminar World Zakat Forum (WZF) “Developing International Standards for Zakat Management”, Selasa (9/6/2015).

“Untuk itu, kami berharap mudah-mudahan ada kebijakan khusus atau staf khusus presiden yang bepikir keras demi lancarnya penyelenggaraan syariat islam di Aceh.”

Pemko Banda Aceh, kata Illiza, terus berupaya menegakkan sayriat Islam secara kaffah. Soal Zakat yang merupakan rukun islam ketiga, katanya lagi, masih banyak hal-hal yang perlu diatur kembali secara mendetil.

“Kami merasa masih banyak kekurangan dalam hal penegakan Syariat Islam yang juga telah menjadi amanah konstitusi. Kami sangat mengharapkan dukungan dari pemerintah pusat,” kata Illiza pada acara yang dibuka oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Prof Dr Machasin tersebut .

Ia menambahkan, dengan label world islamic tourism, Banda Aceh ke depan bisa seterusnya menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan ajang-ajang yang berkaitan dengan syariah. “Bagi kami, tidak ada kebahagian lain, selain dengan penerapan Syariat Islam secara kaffah,” pungkasnya.


Asiten II Setda Aceh Azhari SE MSi yang pada kesempatan itu mewakili Gubernur Aceh, menyebutkan, zakat merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Dalam UUPA, terdapat tiga pasal yang berkaitan dengan zakat, yakni pasal 180, 191 dan 192.

Pasal 180 ayat (1) huruf d menyebutkan: “Zakat merupakan salah satu sumber Penerimaan Daerah (PAD) Aceh dan PAD Kabupaten/Kota”. Pasal 191 menyebutkan: “Zakat, harta wakaf, dan harta agama dikelola oleh Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal Kabupaten/Kota yang diatur dalam Qanun” Pasal 192 menyebutkan: “Zakat yang dibayar menjadi pengurang terhadap jumlah Pajak Penghasilan (PPh) terhutang dari wajib pajak.”

Melalui seminar zakat internasional ini, gubernur meminta persoalan zakat agar dikaji lebih dalam untuk mendorong pembangunan Aceh. “Pada 2014, zakat yang mampu dihimpun Baitul Mal Aceh mencapai Rp 150 miliar, dan itu masih terfokus pada zakat para PNS. Salah satu faktor belum optimalnya pengumpulan zakat di Aceh adalah belum berjalannya pasal 192 UUPA,” katanya.

“Dalam forum ini dengan narasumber dari berbagai dunia, kami berharap ada solusi dan masukan soal tata kelola zakat yang lebih baik ke depannya.”

Saat ini, tambah Azhari, ada dua kendala utama terkait pengelolaan zakat di Aceh. “Pertama soal penerimaan, ruh-nya PAD yang bersifat transito, tapi karena belum ada regulasinya, maka pola administrasinya persis sama seperti penerimaan PAD lainnya.”

“Kedua terkait pengeluaran zakat. Setelah disetor ke kas daerah, dana zakakt harus diamprah oleh Baitul Mal sesuai dengan ketentuan umum. Tidak ada aturan khusus yang mengatur soal ini,” katanya.

Pihaknya pun menilai seminar zakat internasional ini merupakan suatu momentum Pemerintah Aceh khususnya Baitul Mal untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan bisa menagambil contoh yang baik dari negar-negara lain.

“Selama 10 tahun terakhir pengelolaan zakat oleh Baitul Mal, kita akui belum mampu memungut zakat secara optimal. Kenapa kita masukkan ke PAD, karena adanya semnagat akuntabilitas dan tranparansi. Harapan kita masyarakat bisa lebih termotivasi untuk berzakat.”

Seperti diberitakan sebelumnya, perwakilan lembaga pengelola zakat dari 10 negara yakni Arab Saudi, Turki, Bosnia, Malaysia, Afrika Selatan, India, Tanzania, Bangladesh, Jordan dan Indonesia, ikut ambil bagian dalam seminar World Zakat Forum (WZF) yang digelar di Kota Banda Aceh pada 9-10 Juni 2015.

Seminar bertajuk “Developing International Standards for Zakat Management” ini dibuka secara resmi oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Prof Dr Machasin mewakili Menteri Agama RI, Selasa (9/6/2015) di Hermes Palace Hotel. (Jun)

10 Negara Bahas Standarisasi Zakat di Banda Aceh

World Zakat Forum


Banda Aceh – Lembaga pengelola zakat dari 10 negara yakni Arab Saudi, Turki, Bosnia, Malaysia, Afrika Selatan, India, Tanzania, Bangladesh, Jordan dan Indonesia, ikut ambil bagian dalam seminar World Zakat Forum (WZF) yang digelar di Kota Banda Aceh pada 9-10 Juni 2015.

Seminar bertajuk “Developing International Standards for Zakat Management” ini dibuka secara resmi oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Prof Dr Machasin mewakili Menteri Agama RI, Selasa (9/6/2015) di Hermes Palace Hotel.

Dalam sambutannya, Machasin menyebutkan sebelumnya pihaknya melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) juga sudah mengadakan diskusi dengan lembaga pengelola zakat dari berbagai negara.

Dalam world zakat forum ini, kami berharap dapat tersusun suatu standar pengelolaan zakat yang dapat dipakai di seluruh dunia sehingga manfaat zakat bagi mustahiq lebih optimal,” katanya.

Jika dikelola dengan baik, sambungnya, zakat dapat berperan besar dalam mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan sosial dalam masyarakat. “Untuk itu diperlukan administrasi keiklhasan dalam mengelola zakat.”

Kenapa harus berstandar internasional? Karena kita ingin mengedepankan manajemen pengelolaan zakat yang akuntabel, transparan, efektif dan efisien serta sudah teruji di banyak negara,” katanya.

Soal pengaturan lembaga-lembaga zakat, Machasin menjelaskan tugas pemerintah adalah membuat regulasi dan pengawasan. “Daftar lembaga zakat yang beroperasi di Indonesia kita sudah punya, namun belum semuanya terakreditasi.”

“Mereka (lembaga zakat) harus mengajukan dulu kepada kita. Kalau Baznas dibentuk langsung oleh Presiden, sementara di daerah dibentuk oleh Bupati/Wali Kota sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.

Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc selaku Ketua Umum Baznas, mengungkapkan, terkait standar manajemen pelayanan zakat, yang terpenting bukan jumlah pengumpulan zakatnya yang besar, tetapi bagaimana zakat mengangkat derajat para mustahiq. “Itulah kesuksesan sebuah badan zakat.”

Baznas, kata Didin, terus mensosialisasikan zakat agar dapat menjadi mainstream perekonomian bangsa. “Jika ZIS dikelola dengan baik, maka kesejahteraan warga akan meningkat. Korelasi pajak dan zakat itu positif, seperti yang terjadi di Malaysia.”

“Zakat tidak dipandang sebelah mata, tapi suatu potensi yang sangat besar. Banyak negara menjadikan zakat sebagai bagian penting dari pemerintahan,” katanya seraya menambahkan pihaknya juga sudah menyalurkan bantuan zakat bagi pengungsi Rohingya yang dikoordinir langsung oleh Baitul Mal Aceh.


Turut hadir pada acara acara pembukaan WZF 2015 antara lain Asiten II Setda Aceh Azhari SE MSi yang mewakili Gubernur Aceh, Wali Kota Banda Aceh Hj Illiza Sa'aduddin Djamal SE, Sekjen WZF Dr Ahmad Juwaini serta perwakilan lembaga zakat dari 10 negara. (Jun)

Peletakan Batu Pertama Gedung Bank Aceh Cabang Bireuen



BIREUEN, ACEH – Gedung Bank Aceh cabang Bireuen, hari ini, Selasa 09 Juni 2015, melakukan peletakan batu pertama pembangunan kantornya di lokasi bekas terminal Bireuen, pinggir jalan Medan – Banda Aceh, peletakan tersebut di lakukan Direktur Utama Bank Aceh Busra Abdullah didampingi Bupati Bireuen H. Ruslan M. Daud dengan disaksikan Pemimpin PT Bank Aceh Cabang Bireuen Iskandar, Forkompimda, Dandim 0111 Bireuen Letkol Inf. Sofanuddin, tokoh pendidri Bireuen, Tgk Darwis Jeuniueb Ketua KPA Wilayah Batee Iliek, rekanan yang melakukanan kerja Muchlis, dan para undangan lainnya.

“Sebelumnya, Abu Tu Min Blang Bladeh ulama kharismatik Aceh di percaya menepung tawari (peusijuek-red) sekaligus mendoakan agar pembangunan tersebut sukses hendaknya”.

Bupati Bireueng mengungkapkan rasa senang atas pelaksanaan peletakanan batu pertama Gedung Bank Aceh cabang Bireuen pada hari ini, karena sesungguhnya telah tercapai apa yang ia perjuangkan.

Direktur utama Bank Aceh Busra Abdullah, menyampaikan dengan dimulainya pembangunan gedung Bank Aceh cabang Bireuen, di harap mampu meningkatkan ekonomi di kabupaten tersebut melalui penciptaan lapangan kerja dan putaran uang yang lebih baik.

“Kita berharap setahun kedepan kembali bisa hadiri disini untuk menandatangani prasasti tanda gedung Bank Aceh cabang Bireuen mulai beroprasi”, tambah Busra dalam sanbutannya pada peletakan batu pertama Bank Aceh cabang Bireuen yang ikut di hadiri Wakil Bupati Ir. Mukhtar , Msi dan anggota DPRK setemapat.(tag)

Anggota Parlemen RI Minta PLN Aceh Pasok Arus Listrik Secukupnya di Bulan Ramadhan



BIREUEN, ACEH- Anggota Parlemen DPR RI asal Aceh yang duduk di Komisi VI, Fadhlullah meminta PT PLN Aceh untuk memberi jaminan ketersediaan pasokan listrik yang mencukupi selama bulan suci Ramadhan 1436 Hijriah.

Menurut Fadhlullah untuk bulan ramadhan jangan ada lagi pemadaman bergilir atau listrik padam, jika ini terjadi maka dikhawatirkan akan sangat mengganggu aktivitas ibadah berpuasa bagi warga terutama diwaktu malam.
Maka dengan itu perlu adanya persiapan yang matang dari pihak PLN Aceh agar tidak terjadi listrik off di bulan puasa, “Kami minta agar PLN Aceh dapat mempasok listrik dengan normal selama bulan suci Ramadhan," katanya saat di temui dalam sebuah silaturrahmi di Bireuen, Minggu 07 Juni 2015.

Fadhlullah (Dek Fad) yang merupakan politisi GERINDRA dari Aceh ini, mengungkapkan kemajuan sebuah daerah ikut tergantung pada sejauh mana kesiapan sarana dan prasarana yang tersedia termasuk listrik, apalagi seperti pada bulan ramadhan, kita tau warga sangat membutuhkannya.


Suatu hal yang postif dan apresiasi patut kita berikan kepada PLN Aceh, jika pasokan arus listrik tersedia secukupnya di bulan ramadhan nanti, kami berharap PLN bisa mengerti kebutuhan rakyat Aceh yang hampir mencapai lima juta orang, pungkas Fadhlullah.(tag)