Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Kakanmenag Aceh Singkil Study E-Kinerja PNS



Banda Aceh - Dalam rangka menindak lanjuti UU No.4 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, dimana Kementrian antar lembaga dan Pemerintah Daerah dituntut untuk melakukan terobosan dan Inovasi guna terwujudnya e-Goverment.

Dasar ini pula mengilhami Drs Salihin Mizal, MA Kepala Kementrian Agama Kabupaten Aceh singkil untuk mendalami program e-kinerja PNS yang telah berlangsung sejak Tahun 2012 dilingkungan Pemko Banda Aceh.

Kamis,  26 Nopember 2015, Salihin yang juga mantan Ketua BKPRMI Kabupaten Aceh selatan bertandang pada UPTB Penilaian Kinerja PNS/E-Kinerja PNS guna melakukan silaturrahmi serta konsultasi terkait penerapan e-kinerja PNS dilingkungan Kementrian Agama Kabupaten Aceh Singkil.

Kegiatan yang berlangsung kurang lebih satu jam diterima langsung oleh Muhammad Syarif SHI MH Kepala UPTB Penilaian Kinerja PNS/E-Kinerja  diruang kerjanya. Diskusi mengalir dengan cair, Tak disangka pada saat sama-sama aktif di DPW BKPRMI NAD dibawah kepemimpinan Drs Bustami Usman MSi kurang lebi sepuluh tahun yang lalu. Akhirnya dipertemukan.

Syarif memberikan apresiasi atas rencana Kemenag Aceh singkil untuk melakukan terobosan di bidang pembinaan Sumber Daya Aparatur, Kepegawaian dan Tata Laksana.
"Semua berawal dari mimpi. Semoga saja pertemuan ini menjadi awal untuk menata kelembagaan, kepegawaian dan tata laksana dilingkungan Kementrian Agama Aceh Singkil," cetus Salihin.

Jelang Ramadhan 1436 H, Harga Sembako Dipastikan Stabil



Banda Aceh – Harga sembilan bahan pokok (Sembako) di Kota Banda Aceh menjelang bulan puasa Ramadhan 1436 H, dipastikan stabil. Sementara harga sayur-mayur diprediksi akan mengalami sedikit kenaikan. 

Hal tersebut mengemuka dalam rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Banda Aceh, Rabu (10/6) kemarin yang dipimpin oleh Sekdako Banda Aceh Ir Bahagia Dipl SE di Ruang Rapat Sekda Gedung B Balai Kota.
“Informasi dari pihak Bulog, stok Beras selama bulan puasa cukup untuk warga Kota Banda Aceh, harganya pun dipastikan stabil. Sebelumnya kita juga sudah menyalurkan Raskin kepada warga yang membutuhkan,” kata Sekda Bahagia, Kamis (11/6/2015).
Untuk harga bahan Sembako lainnya juga dipastikan stabil. Kenaikan harga diperkirakan hanya terjadi untuk komiditi sayur-mayur. “Untuk mengendalikan kenaikan harga, Disperindag Banda Aceh juga telah menggelar operasi pasar di sejumlah titik.”
“BI memang memprediksi akan terjadi sedikit inflasi karena faktor permintaan barang meningkat. Ditambah masa panen 2015 juga telah selesai. Sementara Pertamina juga telah menambah jumlah persediaan tabung gas ukuran 3kg dan 12 kg untuk wilayah Banda Aceh,” kata Sekda.
Rapat yang digelar dalam rangka pemantauan dan pengendalian harga kebutuhan pokok menjelang Ramadhan 1436 H tersebut, diikuti oleh seluruh perwakilan SKPD yang tergabung dalam TPID Banda Aceh. Hadir pula sejumlah perwakilan instansi vertikal seperti Bank Indonesia, Bulog, Pertamina dan Badan Pusat Statistik (BPS). (Jun)

Optimalisasi Penerapan SI Perlu Kebijakan Khusus Dari Pusat




Banda Aceh – Tidak semua program pemerintah pusat sesuai dengan Provinsi Aceh yang menerapkan Syariat Islam. Masih banyak persoalan yang bersifat paradoks, termasuk dalam hal penyaluran zakat.

Hal tersebut dikemukakan Wali Kota Banda Aceh Hj Illiza Sa'aduddin Djamal SE spada acara pembukaan seminar World Zakat Forum (WZF) “Developing International Standards for Zakat Management”, Selasa (9/6/2015).

“Untuk itu, kami berharap mudah-mudahan ada kebijakan khusus atau staf khusus presiden yang bepikir keras demi lancarnya penyelenggaraan syariat islam di Aceh.”

Pemko Banda Aceh, kata Illiza, terus berupaya menegakkan sayriat Islam secara kaffah. Soal Zakat yang merupakan rukun islam ketiga, katanya lagi, masih banyak hal-hal yang perlu diatur kembali secara mendetil.

“Kami merasa masih banyak kekurangan dalam hal penegakan Syariat Islam yang juga telah menjadi amanah konstitusi. Kami sangat mengharapkan dukungan dari pemerintah pusat,” kata Illiza pada acara yang dibuka oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Prof Dr Machasin tersebut .

Ia menambahkan, dengan label world islamic tourism, Banda Aceh ke depan bisa seterusnya menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan ajang-ajang yang berkaitan dengan syariah. “Bagi kami, tidak ada kebahagian lain, selain dengan penerapan Syariat Islam secara kaffah,” pungkasnya.


Asiten II Setda Aceh Azhari SE MSi yang pada kesempatan itu mewakili Gubernur Aceh, menyebutkan, zakat merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Dalam UUPA, terdapat tiga pasal yang berkaitan dengan zakat, yakni pasal 180, 191 dan 192.

Pasal 180 ayat (1) huruf d menyebutkan: “Zakat merupakan salah satu sumber Penerimaan Daerah (PAD) Aceh dan PAD Kabupaten/Kota”. Pasal 191 menyebutkan: “Zakat, harta wakaf, dan harta agama dikelola oleh Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal Kabupaten/Kota yang diatur dalam Qanun” Pasal 192 menyebutkan: “Zakat yang dibayar menjadi pengurang terhadap jumlah Pajak Penghasilan (PPh) terhutang dari wajib pajak.”

Melalui seminar zakat internasional ini, gubernur meminta persoalan zakat agar dikaji lebih dalam untuk mendorong pembangunan Aceh. “Pada 2014, zakat yang mampu dihimpun Baitul Mal Aceh mencapai Rp 150 miliar, dan itu masih terfokus pada zakat para PNS. Salah satu faktor belum optimalnya pengumpulan zakat di Aceh adalah belum berjalannya pasal 192 UUPA,” katanya.

“Dalam forum ini dengan narasumber dari berbagai dunia, kami berharap ada solusi dan masukan soal tata kelola zakat yang lebih baik ke depannya.”

Saat ini, tambah Azhari, ada dua kendala utama terkait pengelolaan zakat di Aceh. “Pertama soal penerimaan, ruh-nya PAD yang bersifat transito, tapi karena belum ada regulasinya, maka pola administrasinya persis sama seperti penerimaan PAD lainnya.”

“Kedua terkait pengeluaran zakat. Setelah disetor ke kas daerah, dana zakakt harus diamprah oleh Baitul Mal sesuai dengan ketentuan umum. Tidak ada aturan khusus yang mengatur soal ini,” katanya.

Pihaknya pun menilai seminar zakat internasional ini merupakan suatu momentum Pemerintah Aceh khususnya Baitul Mal untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan bisa menagambil contoh yang baik dari negar-negara lain.

“Selama 10 tahun terakhir pengelolaan zakat oleh Baitul Mal, kita akui belum mampu memungut zakat secara optimal. Kenapa kita masukkan ke PAD, karena adanya semnagat akuntabilitas dan tranparansi. Harapan kita masyarakat bisa lebih termotivasi untuk berzakat.”

Seperti diberitakan sebelumnya, perwakilan lembaga pengelola zakat dari 10 negara yakni Arab Saudi, Turki, Bosnia, Malaysia, Afrika Selatan, India, Tanzania, Bangladesh, Jordan dan Indonesia, ikut ambil bagian dalam seminar World Zakat Forum (WZF) yang digelar di Kota Banda Aceh pada 9-10 Juni 2015.

Seminar bertajuk “Developing International Standards for Zakat Management” ini dibuka secara resmi oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Prof Dr Machasin mewakili Menteri Agama RI, Selasa (9/6/2015) di Hermes Palace Hotel. (Jun)

10 Negara Bahas Standarisasi Zakat di Banda Aceh

World Zakat Forum


Banda Aceh – Lembaga pengelola zakat dari 10 negara yakni Arab Saudi, Turki, Bosnia, Malaysia, Afrika Selatan, India, Tanzania, Bangladesh, Jordan dan Indonesia, ikut ambil bagian dalam seminar World Zakat Forum (WZF) yang digelar di Kota Banda Aceh pada 9-10 Juni 2015.

Seminar bertajuk “Developing International Standards for Zakat Management” ini dibuka secara resmi oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Prof Dr Machasin mewakili Menteri Agama RI, Selasa (9/6/2015) di Hermes Palace Hotel.

Dalam sambutannya, Machasin menyebutkan sebelumnya pihaknya melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) juga sudah mengadakan diskusi dengan lembaga pengelola zakat dari berbagai negara.

Dalam world zakat forum ini, kami berharap dapat tersusun suatu standar pengelolaan zakat yang dapat dipakai di seluruh dunia sehingga manfaat zakat bagi mustahiq lebih optimal,” katanya.

Jika dikelola dengan baik, sambungnya, zakat dapat berperan besar dalam mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan sosial dalam masyarakat. “Untuk itu diperlukan administrasi keiklhasan dalam mengelola zakat.”

Kenapa harus berstandar internasional? Karena kita ingin mengedepankan manajemen pengelolaan zakat yang akuntabel, transparan, efektif dan efisien serta sudah teruji di banyak negara,” katanya.

Soal pengaturan lembaga-lembaga zakat, Machasin menjelaskan tugas pemerintah adalah membuat regulasi dan pengawasan. “Daftar lembaga zakat yang beroperasi di Indonesia kita sudah punya, namun belum semuanya terakreditasi.”

“Mereka (lembaga zakat) harus mengajukan dulu kepada kita. Kalau Baznas dibentuk langsung oleh Presiden, sementara di daerah dibentuk oleh Bupati/Wali Kota sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.

Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc selaku Ketua Umum Baznas, mengungkapkan, terkait standar manajemen pelayanan zakat, yang terpenting bukan jumlah pengumpulan zakatnya yang besar, tetapi bagaimana zakat mengangkat derajat para mustahiq. “Itulah kesuksesan sebuah badan zakat.”

Baznas, kata Didin, terus mensosialisasikan zakat agar dapat menjadi mainstream perekonomian bangsa. “Jika ZIS dikelola dengan baik, maka kesejahteraan warga akan meningkat. Korelasi pajak dan zakat itu positif, seperti yang terjadi di Malaysia.”

“Zakat tidak dipandang sebelah mata, tapi suatu potensi yang sangat besar. Banyak negara menjadikan zakat sebagai bagian penting dari pemerintahan,” katanya seraya menambahkan pihaknya juga sudah menyalurkan bantuan zakat bagi pengungsi Rohingya yang dikoordinir langsung oleh Baitul Mal Aceh.


Turut hadir pada acara acara pembukaan WZF 2015 antara lain Asiten II Setda Aceh Azhari SE MSi yang mewakili Gubernur Aceh, Wali Kota Banda Aceh Hj Illiza Sa'aduddin Djamal SE, Sekjen WZF Dr Ahmad Juwaini serta perwakilan lembaga zakat dari 10 negara. (Jun)

Peletakan Batu Pertama Gedung Bank Aceh Cabang Bireuen



BIREUEN, ACEH – Gedung Bank Aceh cabang Bireuen, hari ini, Selasa 09 Juni 2015, melakukan peletakan batu pertama pembangunan kantornya di lokasi bekas terminal Bireuen, pinggir jalan Medan – Banda Aceh, peletakan tersebut di lakukan Direktur Utama Bank Aceh Busra Abdullah didampingi Bupati Bireuen H. Ruslan M. Daud dengan disaksikan Pemimpin PT Bank Aceh Cabang Bireuen Iskandar, Forkompimda, Dandim 0111 Bireuen Letkol Inf. Sofanuddin, tokoh pendidri Bireuen, Tgk Darwis Jeuniueb Ketua KPA Wilayah Batee Iliek, rekanan yang melakukanan kerja Muchlis, dan para undangan lainnya.

“Sebelumnya, Abu Tu Min Blang Bladeh ulama kharismatik Aceh di percaya menepung tawari (peusijuek-red) sekaligus mendoakan agar pembangunan tersebut sukses hendaknya”.

Bupati Bireueng mengungkapkan rasa senang atas pelaksanaan peletakanan batu pertama Gedung Bank Aceh cabang Bireuen pada hari ini, karena sesungguhnya telah tercapai apa yang ia perjuangkan.

Direktur utama Bank Aceh Busra Abdullah, menyampaikan dengan dimulainya pembangunan gedung Bank Aceh cabang Bireuen, di harap mampu meningkatkan ekonomi di kabupaten tersebut melalui penciptaan lapangan kerja dan putaran uang yang lebih baik.

“Kita berharap setahun kedepan kembali bisa hadiri disini untuk menandatangani prasasti tanda gedung Bank Aceh cabang Bireuen mulai beroprasi”, tambah Busra dalam sanbutannya pada peletakan batu pertama Bank Aceh cabang Bireuen yang ikut di hadiri Wakil Bupati Ir. Mukhtar , Msi dan anggota DPRK setemapat.(tag)

Anggota Parlemen RI Minta PLN Aceh Pasok Arus Listrik Secukupnya di Bulan Ramadhan



BIREUEN, ACEH- Anggota Parlemen DPR RI asal Aceh yang duduk di Komisi VI, Fadhlullah meminta PT PLN Aceh untuk memberi jaminan ketersediaan pasokan listrik yang mencukupi selama bulan suci Ramadhan 1436 Hijriah.

Menurut Fadhlullah untuk bulan ramadhan jangan ada lagi pemadaman bergilir atau listrik padam, jika ini terjadi maka dikhawatirkan akan sangat mengganggu aktivitas ibadah berpuasa bagi warga terutama diwaktu malam.
Maka dengan itu perlu adanya persiapan yang matang dari pihak PLN Aceh agar tidak terjadi listrik off di bulan puasa, “Kami minta agar PLN Aceh dapat mempasok listrik dengan normal selama bulan suci Ramadhan," katanya saat di temui dalam sebuah silaturrahmi di Bireuen, Minggu 07 Juni 2015.

Fadhlullah (Dek Fad) yang merupakan politisi GERINDRA dari Aceh ini, mengungkapkan kemajuan sebuah daerah ikut tergantung pada sejauh mana kesiapan sarana dan prasarana yang tersedia termasuk listrik, apalagi seperti pada bulan ramadhan, kita tau warga sangat membutuhkannya.


Suatu hal yang postif dan apresiasi patut kita berikan kepada PLN Aceh, jika pasokan arus listrik tersedia secukupnya di bulan ramadhan nanti, kami berharap PLN bisa mengerti kebutuhan rakyat Aceh yang hampir mencapai lima juta orang, pungkas Fadhlullah.(tag)

Illiza Sampaikan Raqan Pertanggungjawaban APBK Banda Aceh 2014



Banda Aceh – Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh menggelar sidang paripurna dengan agenda Penyampaian Penjelasan dan Penyerahan Rancangan Qanun (Raqan) Tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBK Banda Aceh 2014.

Penjelasan dan penyerahan Raqan tersebut dilakukan langsung Wali Kota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE pada sidang paripurna yang dipimpin oleh Ketua DPRK Banda Aceh Arif Fadhillah SIKom, Senin (18/5/2015).

Saat membuka sidang yang digelar di Ruang Sidang Utama DPRK Banda Aceh ini, Arif Fadhillah mengatakan, agenda sidang lebih merujuk kepada implementasi fungsi dewan pada bidang pengawasan.

“Fokus pengawasannya adalah pada pelaksanaan dan pertanggungjawaban APBK Banda Aceh tahun anggaran 2014 yang telah direalisasikan pelaksanaannya oleh pihak eksekutif,” kata politisi Partai Demokrat tersebut.

Sementara itu, Wali Kota Illiza di hadapan dewan menjelaskan berbagai program dan kegiatan yang dilaksanakan pada tahun anggaran 2014, sesuai dengan Visi Kota Banda Aceh sebagai Model Kota Madani.

"APBK Banda Aceh 2014 sebagai rencana kerja tahunan yang memuat bergabagi program dan kegiatan, disusun atas dasar pendekatan kinerja yang mengutamakan output, hasil dan manfaat dari setiap alokasi biaya yang direncanakan sesuai kebutuhan masyarakat," papar Illiza.

Pada kesempatan itu, wali kota juga menyampaikan Realisasi Pendapatan Daerah, Belanja Daerah dan Pembiayaan Daerah sampai dengan 31 Desember 2014.

"Pendapatan sampai 31 Desember 2014 terealisasi sebesar Rp 1.131.104.242.954 atau 99,92 persen yang bersumber dari PAD Rp 171.777.275.448, Pendapatan Transfer Rp 811.552.695.026 dan lain-lain pendapatan yang sah sebesar Rp 150.774.272.479," rinci Illiza.

Adapun Belanja Daerah yang terealisasi sebesar Rp 1.096.156.567.907 atau 91,77 persen dari yang direncanakan Rp 1.194.481.738.323 yang terdiri dari Belanja Operasi Rp 876.092.874.154, Belanja Modal Rp 207.564.197.996, dan belanja tak teduga terealisasi Rp 29.094.554, serta transfer/bagi hasil ke desa yang terealisasi sebesar Rp 12.470.401.203.

“Dilihat dari sisi penerimaan pembiayaan daerah, yang terealisasi sebesar Rp 62.987.795.452 atau 100 persen dari yang direncanakan. Sementara pengeluaran pembiayaan daerah tidak direalisasikan,” sambung Illiza.

Mengakhiri sambutannya, Illiza mengakui tidak semua program pada 2014 dapat memenuhi harapan semua pihak. “Atas kekurangan dan hambatan yang kita temui selama ini khususnya dalam pelaksanaan APBK 2014, marilah sama-sama kita perbaiki dan sempurnakan pada tahun anggaran berjalan," katanya.

Turut hadir pada kesempatan tersebut antara lain Sekda Kota Banda Aceh Ir Bahagia Dipl SE, Sekwan Drs Ansarullah, sejumlah unsur Forkopimda dan Kepala SKPD di lingkungan Pemko Banda Aceh serta awak media. (sbr/Jun)

BBM Batal Naik



JAKARTA -  PT Pertamina (Persero) membatalkan kenaikan Pertamax, Pertamax Plus, Pertamax Racing, dan Pertamina Dex.

VP Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan Pertamina membatalkan kenaikan bahan bakar minyak komersil yakni Pertamax, Pertamax Plus, Pertamax Racing, dan Pertamax Dex. Sebelumnya, telah beredar surat edaran kenaikan keempat bahan bakar minyak tersebut yang berlaku per 15 Mei 2015 pukul 00:00 WIB.

Dalam surat edaran disebutkan harga Pertamax untuk wilayah DKI Jakarta naik dari Rp8.800 per liter menjadi Rp9.600 per liter. Sementara harga Pertamax Plus menjadi Rp10.550 per liter, Pertamax Dex Rp12.200 per liter, dan Solar keekonomian nonsubsidi Rp9.200 per liter.

"Perseroan memutuskan tidak menaikkan harga bahan bakar komersil," katanya kepada Bisnis di Jakarta, Kamis (14/5).

Harga bahan bakar minyak jenis Premium, solar bersubsidi, dan minyak tanah juga tidak mengalami kenaikan. Harga tetap sama Premium Jawa Madura Bali (Jamali) Rp7.400 per liter, Premium luar Jamali Rp7.300 per liter, solar bersubsidi Rp6.900 per liter, dan minyak tanah Rp2.500 per liter.(Bisnis.com)

9-10 Juni, World Zakat Forum Gelar Seminar di Banda Aceh

llliza dan Sekjen WZF


Banda Aceh - Pada 9-10 Juni 2015 mendatang, Kota Banda Aceh akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan seminar internasional bertajuk “Membangun Standar Internasional Manajemen Zakat” yang digagas oleh World Zakat Forum (WZF).

Hal tersebut mengemuka dalam rapat persiapan seminar yang akan dikikuti oleh sekitar 150 perwakilan lembaga zakat dari 16 negara tersebut di Ruang Rapat Wali Kota Banda Aceh, Rabu (13/5/2015).

Sekjend WZF Dr Ahmad Juwaini mengatakan, pada tahun lalu pihaknya menggelar acara serupa di New York, USA. “Pada pagelaran tahun ini di Banda Aceh, kami berharap dapat dimanfaatkan dan dihadiri oleh tokoh zakat di Indonesia maupun Aceh.”

Seminar yang digelar di Hotel Hermes Palace dan dijadwalkan akan dibuka oleh Menteri Agama RI ini, sambung Ahmad, diharapkan menjadi landasan bagi lahirnyasebuah standar manajemen zakat yang akan meningkatkan performa pengelolaan zakat sedunia.

“Tahun ini kami berharap gagasan standar zakat internasional akan membolasalju dan dipakai di seluruh dunia. WZF akan terus berupaya meningkatkan dampak pengelolaan zakat dalam upaya pengentasan kemiskinan dunia,” kata Ahmad yang juga menjabat sebagai Presdir Dompet Dhuafa tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE menyatakan mendukung penuh seminar ini guna pengelolaan zakat yang lebih baik ke depan dan sebagai bagian dari program pariwisata islami yang digagasnya.

Ia mengungkapkan, rencana awal seminar ini akan diadakan di Bali. “Namun setelah kita mendeklarasikan Banda Aceh sebagai world islamic tourism,  WZF pun tertarik untuk mengadakannya di kota kita.”

Ungkapnya lagi, potensi penerimaan zakat di Banda Aceh mencapai Rp 58 miliar per tahunnya. “Sementara untuk tingkat Provinsi Aceh, potensinya mencapai Rp 2 triliun. Namun kita baru mampu merealisasikannya sebesar Rp 134 miliar,” kata Illiza.

“Jika kita mampu melaksanakan syariat islam secara kaffah termasuk soal pengelolaan zakat secara baik, insyaallah tidak ada orang yang hidupnya susah, kecuali jika orang tersebut memang malas,” tutup Illiza.

Arifin Purwakananta selaku Sekretaris Eksekutif WZF, menambahkan, pihaknya berharap minimal 120 perwakilan lemabaga zakat dari 10 negara dan nasional akan hadir pada event ini.

Kami juga mengundang pembicara dari wakil-wakil lembaga dan pemerhati zakat dari lima benua. Sampai dengan hari ini yang sudah confirm hadir perwakilan dari India, Bosnia, Afrika Selatan dan Malaysia,” kata dia.

Selain itu, kata Arifin, seminar ini terbuka bagi semua pegiat zakat maupun peserta umum untuk ikut serta. “Bagi yang berminat dapat menghubungi sekretariat WZF di nomor telepon 08118779844 atau email worldzakatforum@gmail.com,” pungkasnya.

Hadir pula pada rapat persiapan seminar intenasional ini antara lain, Asisten II Setda Aceh Azhari SE, Kadisbudpar Aceh Drs Reza Fahlevi MSi, Perwakilan Kepala Baitul Mal Aceh, Sekdako Banda Aceh Ir Bahagia Dipl SE beserta sejumlah Asisten, Kabag serta Kepala SKPD terkait dan awak media. (Jun)

Lantik Dirut PDAM, Illiza: Dalam 6 Bulan Harus Ada Perubahan Besar



Banda Aceh - T Novizal Aiyub SE Ak resmi menjabat sebagai Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Daroy Kota Banda Aceh menggantikan Junaidi SSos.

Prosesi pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan T Novizal sebagai Dirut PDAM Tirta Daroy digelar di Aula Lantai IV Balai Kota Banda Aceh, Selasa (12/5/2015), dan dipimpin langsung oleh Wali Kota Banda Aceh Hj Illiza Sa'aduddin Djamal SE.

Turut hadir pada kesempatan itu Sekdako Banda Aceh Ir Bahagia Dipl SE, para Asisten, Staf Ahli, Kabag dan jajaran pegawai PDAM Tirta Daroy. Hadir pula sejumlah anggota DPRK Banda Aceh dan awak media.

Wali Kota Illiza dalam sambutannya mengatakan sangat bersyukur proses panjang pemilihan Dirut PDAM yang dimulai dari lelang jabatan hingga pelantikan berjalan  sesuai prosedur dan sukses. "Semoga Banda Aceh bisa menjadi contoh bagi daerah lain."

Soal air bersih yang menjadi kebutuhan utama masyarakat, kata Illiza, pasca tsunami sampai dengan hari ini, cakupan pelayanannya belum mencapai 100 persen dan belum bisa memuaskan seluruh masyarakat.

"Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Dirut lama beserta stafnya sehingga cakupan penyediaan air bersih baru mampu kita realisasikan sekitar 88 persen. Banyak pula SMS gateway dari warga soal air bersih dan selalu saya teruskan ke Pak Junaidi. Apresiasi buat beliau yang rutin turun ke lapangan."

Pada sosok Dirut PDAM Tirta Daroy yang baru, dengan semangat baru dan pengalamannya di Aceh Besar,  Illiza berharap T Novizal mampu membawa pula perubahan ke arah yang lebih baik soal layanan penyediaan air bersih bagi warga Banda Aceh.

"Target enam bulan ke depan harus ada perubahan-perubahan besar dalam hal pendistribusian air bersih. Untuk itu kita harus terjun langsung ke lapangan. Termasuk bagaimana membangun semangat kerja dan menegakkan disiplin pegawai," kata Illiza.

Wali kota juga meminta Dirut PDAM baru untuk melakukan mapping terhadap daerah-daerah yang belum mendapatkan akses air bersih. "Deteksi masalahnya, sampaikan kepada masyarakat, dan berikan target kapan bisa selesai."

"Tim pengawas juga wajib memberi support agar amanah ini bisa berjalan dengan baik. Banyak orang yang bekerja biasa-biasa saja, tapi kita harus bekerja luar biasa karena air bersih merupakan elemen penting dalam mewujudkan Banda Aceh sebagai Model Kota Madani," pungkas Illiza. (Jun)