Mengenal Sejarah Aceh Melalui Gampong Pande



Pastikan anda pernah mengunjungi Gampong Pande. Sebuah desa di ujung kota Banda Aceh, ibukota Provinsi Aceh. Gampong (Desa) ini telah menjadi tujuan pelayaran sejak berabad-abad sebelum masehi silam oleh pelaut Paoenisia atau lebih dikenal dengan Samal-Bajao, merujuk pada bait-bait literal perpustakan Alexandria (Iskandariyah) dan Injil (Thomas Braddel, “The Ancient Trede of The Indian Archipelago”, Jil II No: 3, 1857).

King of Solomon (Nabi Sulaiman a.s) menyarankan Pelaut Paoenisia agar berlayar ke arah timur, mencari gunung Ophir, yaitu wilayah yang banyak menyimpan emas, Gampong Pande sekarang. Setelah tiga tahun berlayar, mereka berhasil kembali beserta harta (emas) yang melimpah.

Sejak saat itu, pelayaran ke timur dunia semakin marak, khususnya Aceh, Gampong Pande. ”Geograpike Uplehesis” (301SM), sebuah buku yang ditulis oleh seorang Menteri dari Maharaja Iskandar Zulkarnaen, Ptolemaeus, memperkenalkan Aureachersoneseus (Pulau Emas) kepada dunia lengkap dengan peta sebuah pulau bernama Jabadiou (Sumatera).

Setelah ± 400 SM, Aceh dijuluki oleh orang arab sebagai Al Ramni, sedang orang Tionghoa menyebut Aceh sebagai Lan-Li, Lam-Wuli, Nan-Wuli, Nan-Poli. Sebenarnya Lamuri.
Namun istilah-istilah itu berganti dengan Achem (Acheh) sejak kedatangan Bangsa Portugis yang dipimpin oleh Marcopolo dan berganti menjadi Kuta Raja (Kota para raja) oleh Belanda. Memang, letak geografis Aceh merupakan pintu masuk pelayaran barat menuju timur, begitu sebaliknya.

Sehingga Aceh menjadi kota transit para pedagang dunia. Hal ini turut membantu peningkatan perekonomian kerajaan islam di Aceh pada masa itu. Bahkan emas Aceh dijual sampai ke benua Eropa. Selain terkenal dengan emas beserta lokasi pengrajin emas yang saat ini dijadikan nama sebuah lorong Desa Gampong Pande, “Kuta Diblang”.

Desa wisata ini juga terkenal dengan sejarah Islamnya. Sebelum kerajaan Pasai, Kerajaan Islam telah lahir di desa ini, dipimpin oleh Sultan Johan Syah setelah berhasil menaklukkan kerajaan Hindu/ Budha Indra Purba dengan ibu kota Bandar Lamuri kala itu.

Banda Aceh pun kemudian dinisbatkan sebagai kota Islam tertua di Asia Tenggara. Kota ini pernah menjadi sangat terkenal sebagai Bandar Aceh Darussalam ketika masa gemilangnya kerajaan Aceh, Sultan Ali Mughayat Syah yang memimpin Kesultanan Aceh Darussalam selama sepuluh tahun berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara.

Diikuti oleh Sultan Iskandar Muda yang membangun Banda Aceh sebagai pusat perdagangan maritim, khususnya untuk komoditas lada yang pada saat itu sangat diminati pedagang Eropa. Sultan Alaidin Johan Syah dinisbatkan sebagai pendiri Kota Banda Aceh, namun beliau dimakamkan di

Gunong Drien (Glee Drien), Lambirah Sibreh, Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar.
Anda akan menemukan singgahsana terakhir para Sultan Aceh di Desa Gampong Pande. Komplek makam itu merupakan cagar budaya di bawah naungan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »